MURTADHA MUTAHHARI

Posted on 06/12/2009. Filed under: Filsafat, Filsafat Islam |

Biografi

Murtadha Muthahhari lahir di Faryan, pada tanggal 2 Februari 1919. Dari keluarga yang saleh di khurasan.[1] Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya Faryan, setelah itu Muthahhari pindah ke Masyhad, untuk meneruskan pendidikannya dengan guru-guru yang otoritatif dibidangnya. Pada tahun 1936 ia meninggalkan Masyhad untuk pergi ke Qum. Adapun faktor yang mempengaruhi keputusannya untuk pergi ke Qum. Pada tahun 1937 Muthahhari baru betul-betul menetap dan tinggal di Qum. Pada musim panas 1941, Muthahhari meninggalkan Qum yang panas untuk pergi ke Isfahan. [2]

kemudian, pada tahun 1945, mulai membaca sebuah naskah filosofis, Pada tahun 1946, ia mulai mempelajari Kifayah al-Usul. Pada tahun 1949 Muthahhari memulai studinya terhadap al-Asfaral-Arba’ah karangan filosof Syi’ah abad ke 16/17 dengan Ayatullah Khomeini. Teman sekelasnya antara lain Ayatullah Muntazhari, Hajj Aqa Reza Sadr, dan Hajj Aqa Mehdi Ha’eri. Pada tahun 1950 Muthahhari konsentrasi lebih keras lagi pada studi filsafat. Ia meneruskan bacaannya tentang Marxisme melalui terjemahan Persia dari karya George Pulizer yang berjudul Introduction to Philosophy dan mulai mengikuti diskusi kamis Allamah Tabataba’i tentang “filsafat materealis.” Diskusi ini berlangsung dari tahun 1950-1953 dan menghasilkan lima jilid buku Ushul-e Falsafah va Ravesh-e Realism (Prinsip-prinsip Filsafat dan Metode Realistik). Muthahhari kemudian mengedit karya ini dan menambahkan catatan-catatan yang luas (lebih besar dari naskah aslinya sendiri) dan secara bertahap menerbitkannya (1953-1985). Disamping itu pada waktu ini ia mempelajari Ibn Sinadengan Allamah Tabtaba’i. Diantara teman kelasnya adalah Muntazeri dan Behesti.[3]

Pada tahun 1954 ia mulai mengajar di Tehran University, di Fakultas Teologi. Tetapi menjelang awal tahun 60-an dia terlibat secara aktif dalam organisasi masyarakat Religius Bulanan (Anjoman-e ye dini), dan menerbitkan majalah bulanan Goftar-e Mah. Muthahhari dicekal sebentar selama pemberontakan Ayatullah Khomeini pada bulan Juni 1963, dan majalah bulanan (The Mounthy Discdurse) dilarang. Pada tahun 1964 promosi Muthahhari di Tehran University ditolak. Pada tahun 1965 ia turut berjasa dalam mendirikan Hosseiniyyeh Ershad, yaitu sebuah organisasi religius yang didirikan secara pribadi (swasta yang diabdikan untuk kepentingan Syi’ah) Antara bulan Juni 1963 dan bangkitnya gerakan revolusi pada tahun 1977-1979, Muthahhari terus mengadakan kontak dengan Ayatullah Khomeini, dan bahkan dalam kenyataannya ia menjadi satu-satunya wakil di Iran yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan menyalurkan zakat karena pengasingan Ayatullah. Pada waktu yang bersamaan ia terus memberi kuliah dan menulis.[4]

karya

Diantara tulisan-tulisannya, selain Ushul-e Falsafah adalah Struktur Hak-Hak wanita dalam Islam (1966-1967), Manusia dan Nasibnya (1966), Layanan Timbal Balik antara Iran dan Islam (1967), Pertolongan Ghaib dalam Kehidupan Manusia (1969) dan lain-lain.[5]

Pemikiran sebagai ajarannya: Alam dan Manusia

Sebenarnya banyak hal yang dapat dipelajari dari sosok Murtadha Muthahhari, akan tetapi ada baiknya kita mempelajari point demi point dari apa yang menjadi pemikiran cemerlangnya. Mungkin saat ini bahasannya adalah tentang Alam dan Manusia, karena pendapat saya bahwa alam tidak bisa dipisahkan dengan manusia begitupun sebaliknya.

Alam semesta merupakan ciptaan Tuhan, yang diciptakan melalui kehendak Tuhan. Begitu menurut Murtadha Muthahhari, Pandangannya yang menarik adalah tentang kesatuan alam. Dalam artian Tuhan adalah satu dalam esensi, sifat dan agensinya, maka alam semesta sebagai karyanya juga menikmati kesatuannya yang organik. Hal itu menunjukkan bagaimana alam itu merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan saling terkait tanpa menimbulkan kegoncangan secara keseluruhan. Juga ditunjukkan di sana bagaimana hilangnya satu bagian dari alam akan sama dengan hilangnya keseluruhan. Bahkan, ia mengatakan betapa hilangnya “kejahatan-kejahatan” dari alam ini akan berarti hilangnya semua yang ada di alam raya ini. Hubungan organik ini sering diumpamakan oleh Mutahhari dengan hubungan antara anggota badan dengan badannya itu sendiri.[6]

Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa alam semesta ini adalah dunia terdiri dari gabungan antara dunia yang nyata dan dunia yang ghaib. Kata gaib dapat diartikan sebagai yang tersembunyi. Yang tersembunyi pada gilirannya dibagi lagi ke dalam dua bagian ghaib yang relatif dan ghaib yang absolut. Ghaib yang relatif adalah benda-benda yang tersembunyi karena terhalang oleh jarak, baik ruang maupun waktu. Sedangkan ghaib yang absolut merujuk kepada Tuhan, yakni esensi Tuhan. Yang menarik adalah ketika Mutahhari menggambarkan hubungan antara yang nampak dan yang ghaib. Ia mengatakan ketika kita bicara tentang dunia fisik yang nampak sebagai memiliki batas, maka tidak berarti bahwa dunia ghaib berada di luar batas tersebut. Karena kalau begitu dua ghaib berarti juga punya tatanan ruang sebagaimana dunia fisik. Oleh karena itu, menurutnya hubungan itu paling mungkin digambarkan sebagaimana hubungan antara figur dan bayangannya dalam cermin.[7]

Murtadha Muthahhari tahu bahwa yang melanda manusia modern sekarag ini adalah ketidaktahuan manusia tentang dirinya. Ia telah melupakan dirinya sendiri. Untuk membuat manusia mengerti tentang dirinya, Muthahhari terlebih dahulu melacak setiap miskonsepsi tentang manusia itu sendiri.[8]

Menurutnya Manusia merupakan hasil evolusi yang terakhir, dan karena itu sebagai makhluk ia memiliki karakter atau sifat-sifat khusus yang tidak dimiliki oleh hewan-hewan dan makhluk-makhluk yang lebih rendah lagi. Sekalipun hewan dikatakan memiliki kesadaran dan nafsu, namun kesadaran hewan tentang dunia fisik, hanyalah merupakan kesadaran inderawi, dan tidak bisa menjangkau ke kedalaman dan antar-hubungan batin antara benda-benda. Juga kesadaran hewani hanyalah pada objek-objek yang bersifat individual dan partikular, dan tidak bisa menjangkau yang bersifat universal dan general. Tetapi kesadaran manusia bisa mencapai apa-apa yang tidak bisa dijangkau oleh kesadaran hewani tadi. Kesadaran manusia tidak tetap terpenjara dalam batas lokal dan ruang, tidak juga ia terbelenggu pada waktu tertentu; kesadaran manusia justru bisa melakukan pengembaraan menembus ruang dan waktu. Tetapi selain itu, yang betul-betul menjadi ciri yang membedakan manusia dengan hewan adalah ilmu dan iman. Inilah perbedaan utama manusia dari hewan. Oleh karena itu sains dan iman merupakan dua hal yang harus diperoleh dan dikembangkan manusia untuk mengekspresikan kemanusiaannya. Manusia menikmati kemuliaan dan keagungan yang khusus di antara makhluk-makhluk yang lain dan memiliki peran khusus, sebagai wakil Tuhan dan misi yang khusus, sebagai pengelola alam. Namun manusia, dengan kebebasan memilihnya, bertanggung jawab atas evolusi dan pertumbuhan dan pendidikannya dan atas perbaikan masyarakatnya. Alam semesta, merupakan sekolah bagi manusia, dan Tuhan akan memberi pahala setiap diri manusia sesuai dengan niat baiknya dan usahanya yang lurus. Manusia juga dikatakan mempunyai peran kausal dalam dan pengaruh terhadap tindakan-tindakannya. Ia bahkan lebih berpengaruh dalam membentuk nasibnyanya sendiri ketimbang yang lain. [9]

Dari awal telah disebutkan bahwasannya manusia sebagai potret makhluk material dan spiritual yang memiliki banyak kesamaan segi dengan jenis binatang: akan tetapi, pada saat yang sama, dipisahkan dari jenis makhluk hewani tersebut dengan jurang jurang perbedaan-perbedaan mendasar yang mencolok: masing-masing menunjukkan bahwa manusia memang merupakan makhluk dengan dimensi tersendiri, masing-masing merupakan pengejawantahan tersendiri dalam eksistensi seseorang secara menyeluruh. Adapun perbedaannya ada pada tiga wilayah yang berbeda: 1. pemahaman terhadap diri dan alam semesta, 2. keinginan-keinginan yang mengatur manusia, 3. tingkat kemampuan manusia mengatasi keinginan-keinginan-nya dan kemampuan untuk memilih.[10]

Sehubungan dengan pengenalan terhadap alam, indra-indra fisik merupakan seperangkat kesadaran yang menopang hidup makhluk binatang. Manusia memiliki kemampuan-kemampuan seperti itu, sebagaimana makhluk-makhluk lain, walaupun, dalam beberapa hal, binatang-binatang tertentu lebih unggul dibandingkan dengan mereka, pengertian semacam ini dangkal belaka. Ia tidak menukik ke dasar sifat dan hakikat benda-benda, maupun hubungan logis antar benda.

Akan tetapi, di dalam diri manusia, terdapat unsur lain yang mampu menuntun mereka kearah pemahaman terhadap diri dan alam mereka, sedang makhlu-makhluk binatang lain tidak memilikinya. Potensi ghaib ini disebut sebagai “akal pikiran”. Melalui akal pikirannya itu manusia dapat menemukan hukum dasar dari alam dan menguasai hukum menyeluruh terhadapnya. Mereka meramu berbagai aspek bentukan alam sesuka mereka dan mengambil manfaat daripadanya. Sebagaimana telah dijelaskan, kemampuan semacam itu hanya dimiliki oleh manusia. Tetapi, pada kenyataannya, mekanisme pemahaman rasionallah yang merupakan salah satu mekanisme pemahaman dalam kemaujudan manusia. Jika meekanisme ini dikembangkan secara benar, ia akan membantu manusia mengenali dirinya sendiri maupun aspek-aspek lain dari alam semesta yang tak mungkin dicapai langsung oleh indra tubuh. Lebih dari itu, pengetahuan tentang manusia suporanatural dan, akhirnya, pengenalan filosofis tentang Tuhan, akan tetapi pula dicapai melalui bakat ghaib ini.[11]

Penjelasan di atas jelas bahwasannya, kemampuan yang luar biasa, apabila manusia mampu memahami alam dan mengkolaborasikannya. Disatu sisi manusia dikendalikan oleh alam yaitu manusia butuh untuk makan, minum, istirahat, dan lain-lain, sama halnya dengan makhluk lainnya. Akan tetapi disisi lain manusia mampu mengendalikan alam, yang mana membuat manusia luar biasa.

Kesimpulan

Perkembangan dan pengembangan sebuah gagasan yang pada dasarnya bertumpu kepada objek itu sendiri yaitu manusia, hal ini tidak terjadi begitu saja kalau bukan didasari oleh konsep dasar manusia itu. Manusia sebagai faktor utama yang selalu dijadikan objek dalam suatu kajian-kajian yang ada. Sehingga manusia sebagai aktor utama yang membangun seluruh konsep yang ada. Seperti halnya Muthahhari sebagai manusia ia mulai membangun sebuah gagasan yang nantinya akan menjadi sebuah konsep, Yang mana konsep-konsep beliau perlu untuk diperhitungkan.

Pada saat ini dimana zaman yang terus merong-rong adanya figur sentral pada setiap negara umumnya maupun pada lingkup masyarakat khususnya. Figur seperti Murtadha Muthahhari patut ditiru, ia mampu menyadarkan dan mendorong masyarakat untuk bergerak maju. Berbagai pembenahan pun dilakukannya di berbagai bidang, Berjihad dan pengorbanan tidak dilakukan hanya di sektor politik dan sosial saja. Ada saatnya saat melakukan penelitian ilmiah yang menggunakan pilar-pilar pemikiran. mungkin bisa disebut sebagai figur reformis pemikiran.

Muthahhari menyatakan bahwasannya Islam adalah ajaran yang paling komprehensif, sempurna, dan terus hidup sepanjang zaman. Ajaran Islam juga dapat disesuaikan dengan tuntutan pada zamannya. Masalah inilah yang ditekankan beliau dalam bukunya berjudul ‘Matahari Agama, Tidak Akan Pernah Terbenam’. Ditegaskannya bahwa, fenomena sosial dapat dikokohkan jika disesuaikan dengan tuntutan masyarakatnya. Artinya, fenomena tersebut harus muncul dari dalam hati dan fitrah setiap manusia dan harus sesuai dengan tuntutannya.

Dengan begitu, alam dan manusia tidak dapat dipisahkan, karena di dalam diri manusia terdapat alam itu sendiri, manusia mampu memahami dirinya sendiri dan alam yang ada, serta mampu mengaturnya. Wallahu a`lam.

Daftar Pustaka

Mutahahhari, Murtadha. peny. Haidar Bagir.  Membumikan kitab suci: Manusia dan Agama (Bandung: Mizan, 2007).

Kartanegara, Mulyadi, Prof. Dr. Renungan-Renungan Filosofis Murtadha Mutahhari. Artikel diakses pada 6 mei 2009 dari. http://icas-indonesia.org.

Refleksi Pemikiran. Muthahhari: Guru Besar Muslimin Era Modern. Artikel diakses pada 6 mei 2009 dari. http://ressay.wordpress.com/2007/05/27/muthahhari-guru-besar-muslimin-era-modern.


[1] Murtadha Mutahahhari, peny. Haidar Bagir,  Membumikan kitab suci: Manusia dan Agama (bandung: Mizan, 2007), h. 12.

[2] Prof. Dr. Mulyadi Kartanegara, Renungan-Renungan Filosofis Murtadha Mutahhari, Artikel diakses pada 6 mei 2009 dari, http://icas-indonesia.org.

[3] Refleksi Pemikiran, Muthahhari: Guru Besar Muslimin Era Modern, Artikel diakses pada 6 mei 2009 dari, http://ressay.wordpress.com/2007/05/27/muthahhari-guru-besar-muslimin-era-modern/.

[4] Prof. Dr. Mulyadi Kartanegara, Renungan-Renungan Filosofis Murtadha Mutahhari, Artikel diakses pada 6 mei 2009 dari, http://icas-indonesia.org.

[5] Refleksi Pemikiran, Muthahhari: Guru Besar Muslimin Era Modern, Artikel diakses pada 6 mei 2009 dari, http://ressay.wordpress.com/2007/05/27/muthahhari-guru-besar-muslimin-era-modern/

[6] Prof. Dr. Mulyadi Kartanegara, Renungan-Renungan Filosofis Murtadha Mutahhari, Artikel diakses pada 6 mei 2009 dari, http://icas-indonesia.org.

[7] Ibid.,

[8] Murtadha Mutahahhari, h. 34.

[9] Prof. Dr. Mulyadi Kartanegara, Renungan-Renungan Filosofis Murtadha Mutahhari, Artikel diakses pada 6 mei 2009 dari, http://icas-indonesia.org.

[10] Murtadha Mutahahhari, h. 137.

[11] Murtadha Mutahahhari, h. 138.

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “MURTADHA MUTAHHARI”

RSS Feed for mahbubrisad Comments RSS Feed

saya awam dg kajian beliau, namun saya kagum saat membaca buku beliau AKANKAH BUNDA TERESA MASUK NERAKA?. Sbg awam saya terkesan, sepertinya beliau tidak dogmatis


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: