Filsafat

Teori Alam Imajinal

Posted on 11/12/2009. Filed under: Filsafat Islam |

Dalam pemahaman segenap ulama Islam, kata “Alam” tidaklah hanya mengacu kepada segala yang dapat diindera oleh pancaindera lahir manusia. Kata itu mengacu kepada pengertian yang lebih luas, yang biasa dirumuskan dengan ungkapan “apa saja selain Allah”.

Alam yang dapat ditangkap oleh pancaindera lahir manusia, baik alam itu berada di bumi ini ataupun berada di langit, disebut alam syahadah (alam yang disaksikan), sedang alam yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera lahir, seperti para malaikat, jin, dan ruh-ruh (arwah) manusia, dimanapun mereka berada disebut alam ghaib.[1]

Dari alam ghaib inilah, kemudian uraian mengenai Teori Alam Imajinal muncul, dan merupakan kata yang sama dengan kata alam Barzakh, alam Mitsal atau alam Khayal. Dan pengajaran para ulama seperti Al-farabi, ibnu sina, Ibnu arabi dan Mulla Sadra mengenai teori ini, merupakan variasi pemahaman yang cukup penting. Sedikit akan saya uraikan perihal Teori Alam Imajinal menurut beberapa ulama yang telah disebutkan diatas.

Bagi para filosof muslim. Seperti Al-Farabi dan ibnu Sina, alam ghaib yang mereka sebut juga alam ma`qulat (alam yang dapat ditangkap oleh akal, bukan oleh panca indera lahir) dibagi pula kepada dua kategori, yaitu alam akal-akal (`alam al-`uqul) dan alam jiwa-jiwa (`alam al-nufusl)[2] kedua alam itu dapat dipahami sebagai para penggerak (pengatur) alam materi (tubuh): akal-akal sebagai penggerak tidak langsung, sedang jiwa-jiwa sebagai penggerak langsung. Terdapat sepuluh akal, mulai dari akal pertama, sebagai ciptaan-Tuhan yang pertama, sampai dengan akal kesepuluh atau akal aktif yang berhubungan dengan jiwa manusia. Sedang yang termasuk alam jiwa adalah jiwa flora, jiwa fauna, jiwa manusia, dan jiwa setiap tubuh langit (langit pertama sampai dengan langit kesembilan).[3]

Bagi Ibnu `Arabi, alam ghaib itu terbagi kepada dua kategori juga, yaitu alam arwah dan alam barzakh (yang akhir ini disebut juga alam mitsal atau alam khayal). Alam arwah tidak bersifat materi, tidak merupakan jasad (tubuh) dan tidak berbentuk seperti bentuk-bentuk materi. Akal pertama, jiwa universal, para malaikat, jin, dan ruh-ruh manusia masuk dalam katergori arwah. Alam barzakh/mitsal/imajinal juga tidak bersifat materi, tapi dapat merupakan jasad-jasad dan memiliki aneka bentuk, maka ia menyerupai alam materi.[4]

Pada alam barzakh/mitsal/imajinal setiap ruh, akal, atau jiwa yag berasal dari alam arwa, memperoleh jasad-jasad imateri dengan bentuk-bentuk yang sesuai dengan kualitas atau martabatnya. Martabat yang datang kepada maryam dengan jasad seperti jasad seorang laki-laki dan malaikat jibril yang yang pernah datang kepada Nabi Muhammad s.a.w. dengan jasad seperti jasad dihyah (salah seorang sahabat nabi) merupakan contoh ber-tajassud-nya ruh di alam barzakh. Demikian juga ruh setiap manusia sebelum memperoleh tubuh materi di alam materi, lebih dahulu memperoleh tubuh imateri dari alam barzakh, dan bila telah berpisah dari tubuh materi (telah selesai menjalani kehidupan dunia), kembali ke alam barzakh dengan jasad imateri dan bentuk yang sesuai dengan kualitas hidupnya di dunia. Selain itu juga amal-amal perbuatan manusia di dunia ini  akan memperoleh bentuk-bentuk jasadi yang imateri di alam barzakh. Perbuatan-perbuatan baik akan ber-tajassud (memperoleh jasad materi) dengan bentuk-bentuk yang menggembirakan kepada ruh yang menjadi pelakunya, sedang perbuatan jahat akan ber-tajassud dengan bentuk-bentuk yang menakutkan dan menyiksa ruh pelakunya. Surga dengan segala bentuk kenikmatannya dan neraka dengan segala bentuk azabnya masuk dalam kategori alam barzakh.[5]

Jasad-jasad imateri alam barzakh dengan bentuk-bentuk yang menyerupai alam materi hanya bisa dilihat atau diindera dengan indera batin (hati), tidak bisa ditangkap oleh pancaindera lahir (jasmani-materi). Jadi, Malaikat yang dilihat oleh Maryam seperti seorang laki-laki atau Jibril yang pernah Nabi seperti Dihyah, tidaklah dilihat dengan mata kepala, tapi dengan mata batin yang terbuka. Perkara-perkara ghaib yang dilihat oleh para nabi dan para wali (sufi) dengan mata batin mereka adalah perkara ghaib yang berlangsung dalam alam barzakh. Tajalli Tuhan dengan bentuk yang berbeda-beda yang dilihat para nabi dan wali pada masa hidup mereka di dunia atau yang dilihat para penghuni surga di hari akhirat, adalah tajalli melalui selubung jasad imateri alam barzakh.[6]

Menurut Mulla Sadra, Alam Imajinal ini berhubungan dengan realitas mikrokosmik manusia (khayal al-muttashil) dengan tesis bahwa alam imajinal juga mempunyai realitas makrokosmik dan objektif yang mandiri dan terpisah dari manusia (khayal al-munfashil). Ia menandaskan bahwa alam imajinal ini bahkan mempunyai realitas besar daripada fisik. Namun, berkaitan dengan karakteristiknya, ia merupakan alam yang memiliki bentuk-bentuk yang disebut al-shuwar al-khayaliyyah (bentuk-bentuk imajinal) yang tidak terkait dengan materi, paling tidak bukan materi dari alam fisik, itulah sebabnya mengapa bentuk-bentuk itu disebut al-mutsul al-mu`allaqah (bentuk-bentuk yang menggantung). Meskipun demikian, bentuk bentuk itu  adalah bentuk-bentuk yang memiliki warna, bentuk, bau, dan hal lainnya yang berkaitan dengan bentuk-bentuk alam ini. Alam imajinal itu adalah alam yang mempunyai realitas-realitas kongkret, tetapi bukan realitas fisik, alam yang langsung berada di atas alam fisik, yang didindentikkan dengan kota-kota mitis jabulqa dan jabulsa, suatu alam yang dapat dialami oleh para penyaksi di kehidupan ini dan suatu alam yang dimasuki oleh manusia pada sata kematian. Ini adalah alam tempat kita mempunyai raga-raga halus (subtil) atau imajinal (al-jism al-khayali) sebagaimana kita mempunyai raga fisik di dunia sekarang ini.[7]

Pembahasan sedikit tentang Alam Imajinal di atas, sebenarnya telah memberi petunjuk yang jelas kepada kita tentang adanya tingkatan atau Hierarki Wujud yang pada gilirannya akan membawa kita pada gambaran yang lebih lengkap tentang kosmologi mistiko-filosofis Islam.


[1] Prof.Dr. Abdul Aziz dahlan, Penilaian Teologis Atas Paham Wahdat Al-Wujud (Kesatuan Wujud): Tuhan-Alam-Manusia, Dalam Tasawuf Syamsuddin Sumatrani, (Padang: IAIN-IB Pres, 1999) h. 82.

[2] Lihat Ibnu Sina, Al-Najah (Mesir: Al-Babi al-Halabi, lih), h.299, lihat Prof.Dr. Abdul Aziz dahlan, (Padang: IAIN-IB Pres, 1999) h. 83.

[3] Lihat Prof.Dr. Abdul Aziz dahlan, h. 83.

[4] Lihat Prof.Dr. Abdul Aziz dahlan, h. 83.

[5] Ibid,. h. 84.

[6] Lihat Prof.Dr. Abdul Aziz dahlan, h. 84.

[7] Seyyed Hossein Nasr, Mulla Shadra: Ajaran-ajarannya, dalam Ensikolpedi Tematis Filsafat Islam, ed, Seyyed Hossein Nasr dan Oliever leaman (Bandung: mizan, 1999), h. 923-924.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

« Entri Sebelumnya

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...