Lain-lain

Sankhya

Posted on 08/12/2009. Filed under: Lain-lain |

Pendahuluan

Filsafat India (darsana) secara tradisional diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama, yaitu (1) Astika (ortodoks) adalah system Filsafat disamping mengakui keberadaan Tuhan juga mengakui veda sebagai otoritas tertinggi, dan (2) Nastika (heterodoks) adalah system-sistem Filsafat yang tidak mempercayai adanya Tuhan dan juga tidak mengakui veda sebagai otoritas tertinggi.[1]

Dapat dijelaskan lebih ringkas, agar kita dapat mengetahui lebih dekat dengan apa yang akan penulis bahas yaitu tentang sankhya.

Filsafat India dibagi menjadi dua:

  1. Astika (Menerima veda), terbagi dua :
  1. Berdasarkan veda secara langsung, terbagi dua :
    1. Menekankan kehidupan Aktif  (Mimamsa)
    2. Menekankan kehidupan Kontemplatif (Vedanta)
  2. Berdasarkan nalar independen (Nyaya, Veisesika,        sankhya dan yoga)
  3. Materialistik (carvaka)
  4. Spiritualistik (Jaina dan Buddhisme)
  1. Nastika (Menolak veda), terbagi dua :

Kata sankhya berarti “pemantulan”, yaitu pemantulan Filsafati. Oleh karena itu maka aliran ini mengemukakan, bahwa orang dapat merealisasikan kenyataan terakhir dari Filsafat ini dengan pengetahuan.[2] Jadi sankhya berarti pengetahuan eksak yang melibatkan diskriminasi eksak[3]

Ada dua prinsip independen tertinggi dalam Tradisi sankya yaitu purusa (kesadaran) dan prakrti (material). Tradisi ini juga disebut dualistik.[4] Karena berpendirian bahwa ada dua realitas asasi yang berdiri sendiri-sendiri, yang satu lepas daripada yang lain, tetapi yang saling bertentangan tanpa dapat dapat dipadukan, roh dan benda.[5]

Dan juga, Tradisi yang tidak memerlukan konsep Tuhan (Isvara) di dalam evolusi dunia. Tradisi ini juga disebut atheistik.[6] Terhadap masalah Tuhan kita akan menemukan kecendrungan utama sankhya jauh dari keyakinan Tuhan, menurut tradisi ini, eksistensi Tuhan tidak dapat dibuktikan dengan jalan apapun. Kita perlu tidak menerima Tuhan untuk menjelskan dunia ini, karena prakrti adalah penyebab yang cukup terjadinya dunia secara keseluruhan. Tuhan sebagai spirit eternal dan tak berubah tidak dapat menjadi pencipta dunia; karena untuk menghasilkan suatu efek, penyebabnya harus berubah dan mentransformasikan dirinya menjadi suatu efek.

Jadi tradisi sankhya adalah Dualistik dan Atheistik.

Metafisika

Ada keunikan di dalam filsafat ini ”sankhya”  yaitu terletak pada peringkasan semua kategori realitas seperti yang telah dijelaskan oleh nyaya dan vaisesika menjadi dua kategori, yaitu Purusa dan Prakrti, oleh karena itu sankhya memperkenalkan filsafat dualis. Kedua prinsip ini independen satu sama lain dalam hal eksistensinya, tetapi mereka mengadakan kontak agar penciptaan dunia dapat dimulai.[7]

Ajaran pokok dari sankhya ialah, bahwa ada dua zat asasi yang bersama-sama membentuk realitas dunia ini, yaitu Purusa dan Prakrti, roh dan benda, atau asas rohani dan asas badani.[8]

Purusa adalah asas rohani yang kekal, yang berdiri sendiri, serta tidak berubah. Bilangannya besar sekali, tidak terbilang. Masing-masing berdiri sendiri-sendiri[9]

Purusa adalah prinsip intelegensia dimana kesadaran (caitanya) bukalah sebuah atribut, tetapi esensinya. Ia adalah jiwa yang sangat berbeda dari tubuh, Indra-indra dan Pikiran (manas). Ia berada di luar seluruh dunia objek. Ia adalah kesadaran eternal yang menyaksikan perubahan dan aktifitas yang sedang terjadi di dunia, tetapi ia sendiri tidak mengalami perubahan. Benda-benda fisik, seperti kursi, meja, batu, pohon, dan sebagainya eksis untuk penikmatan makhluk-makhluk hidup lain dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, harus ada Purusa atau roh yang berbeda dari Prakrti atau zat pertama, tetapi ia adalah penimat (bhokta) produk-produk Prakrti. Terdapat banyak roh yang saling berbeda dihubungkan dengan tubuh-tubuh yang berbeda-beda, Karena ketika orang merasakan bahagia, yang lainnya tidak bahagia, satu meninggal dunia yang lainnya hidup.[10]

Prakrti atau asas badani adalah sebab pertama alam semesta, yang terdiri dari unsur-unsur kebendaan dan kejiwaan atau psiklogis.[11]

Prakrti adalah penyebab utama dunia. Prakrti adalah prinsip ketaksadaran eternal (jada) yang selalu berubah-ubah yang tidak mempunyai tujuan. Lain kecuali untuk melayani kepuasan roh-roh. Sattwam, rajas, tamas adalah konstituen Prakrti yang memegang mereka bersama-sama dalam keadaan istirahat atau seimbang (samyawastha), ketiganya disebut guna. Tetapi mereka bukanlah sifat-sifat atau kualitas-kualitas. Mereka merupakan tiga elemen subtansial yang membentuk Prakrti seperti tiga utas benang memnentuk seutas tali. Eksistensi guna disimpulkan dari sifa-sifat senang, susah, netral yang kita temukan didalam semua benda di dunia ini. Penyebab dab akibatnya secara esensial identik. Efek adalah kondisi termanifestasikan dari penyebab, contohnya minyak adalah sebuah efek bermanifestasi dari apa yang telah sebelumnya terkandung dalam biji-biji . benda-benda di dunia merupakan efek-efek yang mempunyai sifa-sifat menyenangkan, menyebabkan perasaan menderita dan netral.[12]

Prakrti yang merupakan penyebab utamanya harus mempunyai tiga elemen, yaitu Sattwam, rajas, tamas yang masing-masing mempunyai hakikat menyenangkan, menyebabkan penderitaan atau kesusaahn dan perasaan  netral dan berkorespodensi dengan manifestasi ebab, aktifitas dan kefasifan.

Sankhya menganut teori sebab-akibat (satkarya-wada), yaitu efek pra eksis di dalam peyebab materialnya. Semua efek materialnya merupakan modifikasi (partnama) prakrti. Tidak ada produksi baru, tidak juga destruksi. Yang ada hanyalah modifikasi-modifikasi. Oleh karena itu, teorinya juga disebut prakrti-partwama-karana-wada.[13]

Evolusi

Evolusi dunia nermula dari asosiasi (samyoga) purusa dengan prakrti, yang menggangu keseimbangan asal prakrti dan menggerakkannya menjadi aktifitas. Evolusi terjadi sebagai berikut: dari prakrti muncul benih besar alam semesta yang maha luas ini yang disebut yang maha besar (mahat). Kesadaran roh direfleksikan di atas ini dan membuat nya munsul sebagai suatu yang sadar. Ia menyimbulkan kebangkitan lama dari kandungan kosmisnya dan penampakan pikiran pertama: dan, oleh karena itu , disebut intelek (buddhi).[14]

Dari buddhi timbullah ahamkara, yaitu asas individuaai, asas yang menimbulkan individu-individu. Karena ahamkaralah maka segala sesuatu mamiliki latar belakangnya sendiri-sendiri. Ahamkara juga memiliki segi yang kosmis dan yang jiwani. Dari segi yang kosmis timbullah subyek dan obyek yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri. Dari segi yang jiwani timbullah “Rasa diri” masunia.[15]

Ia adalah puikiran kreatif dunia yang mengevolusikan semua ahamkara, produk kedua, muncul melalui tranformasi lebih lanjut intelek. fungsi ahamkara adalah perasaan `Aku dan milikku` (abhimana). Dengan melihat identifikasinya dengan prinsip ini, roh mempertimbangkan dirinya sendiri menjadi sebuah agen (karta) yang sesungguhnya bukan demikian adanya.dari ahamkara, dengan ekses elemen satiwa, muncul lima organ penge-tahuan (jnanendriya), lima organ tindakan (karmendriya), pikiran (manas) yang sekaligus sebagai sebuah organ pengetahuan dan aktifitas (ubhayendriya). Dengan peningkatan tamas, ahamkara menghasilakan, pada sisi lain, lima elemen halus (tan matra) yang merupakan potensi-potensi suara, sentuhan, warna, rasa, dam bau. Dari lima elemen halus ini muncullah lima elemen kasar, yaitu akasa, atau ether, udara, api, air dan tanah dalam susunan yang sama. Jadi, kita mempunyai dua puluh lima prinsip (tattwa) dalam filsafat sankhya, termasuk purusa[16]

Dari kedua puluh lima prinsip tersebut, prakrti merupakan penyebab atau sumber tertinggi dari semua objek fisik termasuk pikiran, zat, dan hidup. Prakrti adalah penyebab yang tak tersebabkan dari seluruh objek.

Dapat kita simpulkan `Evolusi Dunia` melalui bagan sebagai berikut[17]

Purusa      ……………………………           Prakrti

Mahat

Ahamkara

Manas              Jnanendriya                 Karmendriya               Tanmatra

Mahabhuta

Penutup

Kehidupan di dunia mengalami penderitaan (duhkha). Tak seorang pun bebas dari penderitaan. Kelahiran menjadi manusia berimplikasi pada penderitaan. Walaup[un penderitaa dapat disingkirkan.

Ada tiga jenis penderitaan. Pertama disebut adhyatmika, yaitu penderitaan disebabkan oleh penyebab-penyebab psiko-fisika intra organic dan mencakup semua penderitaan mental dan tubuh. Kedua adalah adhibhantika yaitu penderitaan yang disebabkan oleh penyebab-penyebab alam ekstra organic, seperti manusia, binatang, burung-burung, dan sebagainya, ketiga adalah adhidaiwika, yaitu penderitaan yang disebabkan oleh penyebab-penyebab super natural seperti, planet-planet agensi-agensi elemental, hantu, raksasa, dan sebagainya.[18]

Manusia berada didalam samsara, artinya: ia dibelenggu oleh kelahiran kembali. Hal ini disebabkan karena ia tidak mampu untuk membedakan antara purusa dan prakrti. Purusanya, sebenarnya adalah penonton, dianggap sebagai ikut aktif di dalam segala perbuatan prakrti. Hala yang demikian sudah barang tentu mempengaruhi alat-alat batinya, yaitu buddhi, ahamkara dan manas. Sebelu orang yang mendapatka kelepasan alat-alat batin ini bersam-sama dengan tubuh halusnya dilahirkan kembali dari tubuh kasar yang satu dengan tubuh ksar yang lain. Oleh karena itu maka tubuh halus ini sebenarnya adalah tempat kegirangan dan kesusahan, dan pembentuk watak manusia. Tubuh halus itu digambarkan sebagai pemain sandiwara yang memainkan peranan dalam bermacam-macam babak permainan. Keastuan tubuh halus dan tubuh kasar menghasilkan kelahiran. Pada waktu orang mati kedua tubuh itu dipisahkan, tetapi tubuh halusnyaakan dilahirkan kembali dalam tubuh kasar yang lain yang baru. Adanya tubuh halus serta kelahiran kembali ini akan berlangsung terus sepanjang perputaran masa ini.[19]

Orang akan lepas dari kelahiran kembali jika ia berhasil mengetahui, bahwapurusa berbeda dengan prakrti. Dengan demikian ia tidak akan hidup lagi dalam ketidaktahuan. Jika orang mendapayt kelepasan, purusa akan menjadi “tidak berteman”, artinya purusa akan dilepaskan dari prakrti. Ia akan melihat dirinya sendiri.[20]

Daftar Pustaka

Hadiwijono, Harun, DR. Seri Filsafat India. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985.

Suamba, Putu, I.B,. Dasar-dasar Filsafat India. Denpasar: Mabhakti, 2003.


[1] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, (Denpasar: Mabhakti, 2003), h. 303-304.

[2] D.R. Harun Hadiwijono, Seri Filsafat India, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985), h. 63

[3] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 355.

[4] Ibid.,

[5] D.R. Harun Hadiwijono, Seri Filsafat India, h. 63.

[6] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India,h. 355.

[7] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 356.

[8] D.R. Harun Hadiwijono, Seri Filsafat India,  h. 63.

[9] Ibid.,

[10] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 356.

[11] D.R. Harun Hadiwijono, Seri Filsafat India, h. 64.

[12] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 357.

[13] Ibid.,

[14] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 358.

[15] D.R. Harun Hadiwijono,  Seri Filsafat India, h. 66.

[16] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 358.

[17] Ibid.,

[18] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 360.

[19] D.R. Harun Hadiwijono, Seri Filsafat India, h. 70.

[20] Ibid.,

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...