Tasawuf

`Abd al-Rauf al-Sinkili (1024/1105-1615-1693)

Posted on 06/12/2009. Filed under: Tasawuf |

Pendahuluan.

`Abd al-Rauf al-Sinkili dalam proses transmisi pemikiran doktrin wahdat al-Wujud memiliki peranan yang cukup signifikan, terutama pasca  Nur al-Din al-Raniri dengan dukungan penguasa kerajaan aceh melakukan tekanan dan pembakaran terhadap para pengikut Hamzah Fansuri dan Syams al-Din al-Sumatrani. Kedatangan al-Sinkili pada waktu itu membawa pengaruh yang besar terhadap situasi daan kondisi sosial keagamaan masyarakat Aceh ketika itu. Dengan penguasaan ilmu agama yang mumpuni dan kedekatannya dengan para penguasaa Aceh serta Jaringan Intelektual dengan Haramayn, memberikan keleluasan baginya untuk memberikan solusi terhadap persoalan  yang timbul pada masa itu, disamping itu al-Sinkili bukan tipe ulama yang radikal semisal Nur al-Din al-Raniri, sehingga ia banyak tidak menyetujui terhadap tindakan oleh Nur al-Din sl-Raniri terhadap orang yang dianggapnya menyimpang dari ajaran Islam.

`Abd al-Rauf al-Sinkili merupakan ulama pertama yang membawa Tarekat Syattariyah ke Nusantara, maka pemahaman dan tindakannya paling tidak memcerminkan  terhadap pendidikan yang selama ini diterimanya di Makkah dari Ibrahim al-Kurani. Ia lebih cenderung untuk bersikap moderat daaan toleran terhadap orang lain. Misalnya dalam menyikapi polemik pengkafiran terhadap pengikut Hamzah Fansuri dan Syams al-Din al-Sumatrani, dengan mengutip sebuah Hadits, al-Sinkili mengingatkan agar menuduh muslim lainnya sebagai kafir. Jika memang demikian, keuntungan apa yang kita peroleh darinya dan jika tuduhan itu tidak benar, ia akan berbalik menghantam diri kita sendiri.

Al-Sinkili sangat hati-hati dalam menerjemahkan doktrin mistiknya itu, terlihat dari ungkapan-ungkapan yang disampaikan dalam tulisan-tulisannya.

Misalnya ketika al-Sinkili menjelaskan tentang hadits “man `arafa nafsahu faqad `arafa Rabbahu” (barang siapa mengenal dirinya maka diapun mengenal Tuhannya). Al-Sinkili mengatakan bahwa yang dimaksud dengan makna hadits tersebut adalah barang siapa mengenal dirinya sebagai seorang yang fakir maka niscaya ia mengenal Tuhannya sebagai Zat Yang Maha Kaya, barang siapa mengenal dirinya sebagai seorang yang lemah maka niscaya ia mengenal Tuhannya sebagai Zat Yang Maha Kuat, barang siapa mengenal dirinya sebagai seorang yang tidak berdaya maka niscaya ia mengenal Tuhannya sebagai Zat Yang Maha Kuasa, barang siapa mengenal dirinya sebagai seorang yang Hina maka niscaya ia mengenal Tuhannya sebagai Zat Yang Maha Mulia.

Lebih lanjut al-Sinkili menegaskan bahwasannya hamba akan tetap menjadi hamba betapapun ia naik pada tingkat yang tinggi (taraqqi), daan Allah tetap Allah meskipun ia turun (tanazzul). Demikian hakekatnya tidak akan berubah, hakekat hamba adalah hamba dan tidak akan berubah menjadi hakekat Allah, demikian pula sebaliknya, walau pada zaman azali sekalipun.

Biografi, Karya dan Murid-muridnya.

Nama lengkap dari `Abd al-Rauf al-Sinkili adalah `Abd al-Rauf bin `Ali al-Jawiyyi al-Fansuri al-Singkili. Tahun kelahirannya tidak dapat diketahui dengan pasti hingga saat ini, tetapi menurut Ringkes seperti dikutip Azra menyebut bahwa al-sinkili dilahirkan sekitar tahun 1024/1615 dan dimungkinkan meiliki hubungan keluarga dengan Hamzah Fansuri, sebab dalam sebagian karyanya namanya selalu di ikuti dengan pernyatan “yang berbangsa Fansuri”.[1]

Begitu juga dengan kehidupan awalnya tidak dapat diketahui dengan pasti akan tetapi ia memperoleh pendidikan awal dari kalangan keluarganya. Setelah dewasa, al-sinkili pergi ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan menimba ilmu dan berguru kepada ulama di haramayn. Dalam Umdat al-Muhtajin al-sinkili memberikan catatan biografinya mengenai studinya di Haramayn. Dia menuliskan daftar 19 guru dan 22 ulama lainya yang dengan merekalah al-Sinkili menimba ilmu dari berbagai bidang dan menghabiskan waktu selama 19 tahun untuk belajar di timur tengah. Diantara guru-guru al-sinkili yang terpenting adalah  Ahmad al-Qusyasyi (w. 1071/1660), Ibrahim al-Kurani (w. 1101/1690), Ibrahim bin Abdullah bin ja`man (w. 1083/1672), Abdullah al-Lahuri (w. 1083/1672) yang merupakan murid dari al-Qusyasyi, Ali bin Abd al-Qadir al-Tabari.[2]

Dari al-Qusyasyi nampaknya al-sinkili mendapat pengetahuan tentang ilmu tasawuf dan tarekat, sementara al-Kurani bersifat mengembangkan intelektualnya. Namun hubungan al-sinkili dan al-Kurani tidak terbantahkan. Hal ini terbukti dari pasca kedatangan al-sinkili dari aceh, ia terus menjalin komunikasi dengan ulama timur tengah terutama dengan Ibrahim al-Kurani untuk mendiskusiakn persoalan yang timbul di tanah jawa.[3]

Setelah kembali ke Aceh, al-Sinkili diangkat diangkat oleh Sultan menjadi Qadhi kerajaan pada masa Naqya Tudin Nurul Alam (1675-1678) dan Sultanah Zakiyatudin (1678-1688). Dengan demikian al-Sinkili mendapat petronasi dari kerajaan. Dalam masa itu al-Sinkili menghasilkan berbagai karya tulis dalam bahasa melayu dan bahasa arab. Antara lain :

  1. Mi`rat Ath-Thullab (fiqih Syafi`I bisang muamalat ),,
  2. Hidayat Al-Balifhah (fiqih  tentang sumpah, kesaksian, peradilan, pembuktian dan lain-lain),
  3. `Umdat Al-Muhtajin (tassawuf),
  4. Syams Al-ma`rifah (tasawuf tentang ma`rifat),
  5. Kifayat Al-=Muhtajin (tasawuf),
  6. Daqa`iq Al-Huruf (tasawuf),
  7. Turjumah Al-Mustafidh (tafssir).[4]

Banyak ulama-ulama yang berguru kepada `Abd al-Rauf al-Sinkili seperti Syekh Burhanudin dari Ulakan, Sumatera barat, Abdul Muhyi dari Jawa, Abd a-Malik bin Abd Allah dari Trengganu, dan Dawud i-Jawi al-Fansuri bin Ismail. Nama yang terakhir ini diindikasikan sebagai murid kesayangan dari al-Sinkili. Dengan berdasarkan kolofon Tarjuman al-Mustafid, disebutkan bahwa dia diperintahkan oleh al-Sinkili untuk membuat beberapa penambahan pada tafsir tersebut, sebelum al-sinkili meninggal dunia. Sementara hasymi menyatakan bahwa Dawud al-Jawi merupakan khalifah utama dari al-Sinkili dan bersama-sama dengan gurunya ia mendirikan Dayah sebagai tempat pendidikan bagi murid-muridnya.[5]

Pembaruan Wujudiyah

Ketika `Abd al-Rauf al-Sinkili meninggalkan Aceh untuk belajar ke timur tengah. di Aceh terjadi polemik antara Nur al-Din al-Raniri dengan para pengikut Hamzan Fansuri dan Syam al-Din al-Sumatrani. Maka sangat dimungkinkan `Abd al-Rauf al-Sinkili melihat dan mengalami secara langsung polemik tersebut sampai adanya pengkafiran dan hukuman mati. hal ini tentunya memberi kesan yang kuat kepada al-sinkili, sehingga kepergiaanya ke timur tengah juga salah satunya adalah untuk belajar tentang masalah-masalah tersebut. `Abd al-Rauf al-Sinkili menemukan orang yang tepat di Madinah,  untuk membicarakan masalah itu yaitu dengan al-Qusyasyi dan al-Kurani. Pergaulannya dengan ulama-ulama ini pada gilirannya membawa al-Sinkili menjadi salah satu eksponen neo sufisme di Nusantara dan menjadi salah satu pembela Madhab Ibn `Arabi (wahdat al-wujud) meski dengan penafsiran-penafsiran baru yang lebih ortodoks.[6]

Sebelum menjelaskan tentang persoalan wahdat al-wujud, al-Sinkili terlebih dahulu menegaskan tentang pentingnya Tauhid kepada Allah. Dalam pandangannya Tauhid adalah tindakan mengkaitkan seperti kata membenarkan atau mendustakan, dan bukan menjadikan. Maka arti kalimat aku meng-Esa-kan Allah berarti aku mengaitkan Allah dengan sifat Esa dan bukan menjadikan-Nya Esa. Sebab ke-Esa-an Allah itu telah melekat pada Zat-Nya, dan bukan karena ada yang menciptakan.[7]

Berangakat dari konsep tauhid ini kemudian al-Sinkili menjelaskan hubungan Ontologis antara Tuhan dan Alam, antara al-Haqq dengan al-Khalaq, antara yang Esa dengan yang Banyak, antara Wajib al-Wujud dan al-Mumkinat. Bahwasanya Alam adalah nama untuk segala sesuatu selain al-Haqq. Dibentuknya alam seperti ini karena ia adalah sarana untuk mengetahui keberadaan Allah , maka keberadaan alam itu juga merupakan bukti adanya Allah,  oleh karena itu Hakikat alam adalah Wujud yang terikat pada sifat-sifat yang Mumkinat. Dan jika dihubungkan dengan al-Haqq, maka alam itu bagaikan bayangan. maka bayangan itu tidak memiliki wujud selain wujud pemilik bayangan-Nya. Wujud manusia (alam) adalah merupakan bayang-bayang dari Wujud-Nya. Jadi  mesti dipahami bahwa alam ini bukan benar-benar Zat Allah dan berbeda dengan Allah, alam itu adalah baru karena ia tercipta dari pancaran Wujud-Nya dan berada pada tingkat di bawah-Nya.[8]

Dalam karyanya yang lain kifayah muhtajin juga dijelaskan hubungan antara Alam dengan Tuhan, seperti bayang-bayang dengan pemilik bayang-bayang. Alam adalah bayang-bayang dari Allah dan antara bayang-bayang dengan pemilik bayang-bayang tidak akan pernah sama, dan selamanya bayang-bayang selalu tergantung dengan pemilik bayang-bayang yakni Tuhan.[9]

Inilah yang dimaksud oleh al-Sinkili sebagai Wahdat al-Wujud, yaitu alam bukanlah Wujud kedua yang berdiri sendiri selain Allah dan bahwa al-haq SWT itu maha Esa, tidak ada satu pun yang menyertai segala sesuatu baik di permulaan maupun di akhirnya.[10]

al-Sinkili menjelaskan tentang Tajalli Tuhan ke dalam Tujuh Martabat. Martabat Pertama adalah Martabat Ahadiyah, Martabat Kedua adalah Wahdah, Martabat ketiga adalah Wahidiyah, Martabat keempat adalah Alam Arwah, Martabat Kelima adalah Alam Mitsal, Martabat Keenam adalah Alam Ajsam dan Martabat Ketujuh adalah Alam Insan.[11]

Tiga Martabat yang Pertama, sebagai Anniyat Allah, dinamakan dengan Martabat Ketuhanan dan disebut juga dengan Martabat Batin dan Empat Martabat berikutnya sebagai Anniyat Makhluq, disebut dengan Martabat Ke-hamba-an dan Martabat Lahir.[12]

Lebih lanjut al-sinkili menjelaskan bahwa Martabat Ahadiyah merupakan Nukhah Zat, Martabat Wahdah adalah Nuskhah Sifat, dan Martabat Wahidiyah adalah Nuskhah Asma`, Martabat Alam Arwah adalah Nuskhah Adam, Alam Mitsal adalah Nuskhah adalah segala perkara yang di langit dan di bumi, dan Ajsam adalah Nuskhah segala tubuh dan Alam Insan adalah Nuskhah dari Martabat-martabat sebelumnya.[13]

Polemik, antara Wahdat al-Wujud dan kitab Tuhfah

Dalam Daqa`iq al-Huruf al-Sinkili menjelaskan doktrin martabat tujuh dengan merujuk kepada kitab Tuhfah al-Burhanpuri yang memang menjadi wacana yang dikenal luas di nusantara, tidak diketahui secara pasti kapan kitab ini masuk Nusantara. Namun pada masa Syam al-Din al-Sumatrani, kitab ini nampaknya sudah dikenal baik di Aceh sehingga Syam al-Din al-Sumatrani juga menjadikan kitab ini menjadi rujukannya. Sampai kemudian terjadi polemik yang hebat antara Nur al-Din al-Raniri dengan para penganut doktrin Wahdat al-Wujud di aceh.[14]

Doktrin Wahdat al-Wujud yang terkandung dalam kitab tuhfah tersebut menjadi ajaran yang populer di tanah jawa dan bahkan menjadi pelajaran dasarnya. Oleh karenanya tema Wahdat al-Wujud dalam Tuhfah menjadi populer dikalangan masyarakat. Hal ini memungkinkan terjadinya salah penafsiran yang dilakukan oleh orang-orang yang kurang memiliki pengetahuan dalam bidang agama (tasawuf) dalam menjelaskan doktrin Wahdat al-Wujud dari para sufi, sebab kitab tuhfah ini sangat ringkas. Untuk menghindar kan hal itu maka al-Kurani, menulis sebuah risalah sebagai syarah (penjelasan) dari kitab Tuhfah untuk disampaikan kepada kaum Jawiyyin.[15]

Berbagai tulisan lainnya pun dihasilkan dalam rangka menjernihkan dotrin Martabat Tujuh sehingga tidak dipahami secara salah, al-burhanpuri mengendalikan jenis Tasawuf yang berlebih-lebihan dan lebih kepada penekanan pada unsur-unsur penting islam seperti keberadaan mutlak Tuhan dan syariat, sehingga azra melihat bahwasannya isi dari kitab Tuhfah tentang konsep Martabat Tujuh dengan penjelasannya yang ringkas tersebut justru benar-benar bersifat filosofis. Hal ini sangat mungkin akan mengaburkan maksud dan tujuan dari pengarang terutama jika karya ini dibaca oleh orang awam.[16]

Tarekat Syattariyah di Nusantara

Tarekat syattariyah adalah sebuah tarekat yang seperti diungkapkan Trimingham tidak didapati informasi yang jelas terkait dengan asal-usulnya, namun diduga kuat ia pertama kali muncul di India pada abad ke 15, ia dikenal juga sebagai aliran Isyqiyyah.[17]

Dalam penjelasan doktrin Wahdat al-Wujud di nusantara peran tarekat syattariyah yang dibawa oleh `Abd al-Rauf al-Sinkili setelah menerima ijazah untuk menjadi khalifah syattariyah dari Ahmad al-Qusyasyi yang disebutnya sebagai pembimbing spiritual dan guru di jalan Allah. Tarekat ini memiliki peranan yang cukup signifikan dalam pengembangan ajaran islam, paling tidak kehadirannya membawa pemahaman baru dan membuata polemik antara kaum ortodoks dengan yang dianggap heterodoks dapat diminimalisasi.[18]

Pengaruh al-Sinkili segera tersebar luas ke nusantar lewat berbagai ijazah tarekat yang diterimanya (bukan hanya syattariyah saja). Ia tersebar ke pulau jawa lewat salah satu muridnya Abdul Muhyi Paminjahan yang kemudian segera tersevar pula ke jaw tengah dan jawa timur. Sejumlah muridnya yang belum dapat diidentifikasi namanya juga membawa Tarekat Syattariyah ini ke bengkulu, yang mana membawa kepada bangkitnya sebuah tarekat yang dinamakan Qusyasyiyah, yang sebagaimana dapat diduga dinisbatkan kepada al-Qusyasyi yang merupakan guru dari al-Sinkili. Syekh Burhanuddin menjadi murid al-Sinkili dan diangkat menjadi khalifah Syattariyah di ulakan, sumatera barat, yang kemudian mendirikan surau (lembaga pendidikan) dan terbukti efektif dalam rangka menyebarluaskan ajaran dan tarekat ini.[19]

Kesimpulan

Dengan demikian tidak semua jaringan tarekat syattariyah di Nusantara selalu dihubungkan dengan `Abd al-Rauf al-Sinkili, melainkan ada yang menyatakan bahwa ada beberapa daerrah di Nusantara yang memperoleh tarekat syattariyah dari jalur yang lain meski pada muara yang sama yaitu Ahmad al-Qusyasyi melalui muridnya Ibrahim al-Kurani. Seperti berkembangnya tarekat syattariyah di buntet, cirebon, bahwasannya tarekat syattariyah buntet ini berkembang tidak melewati `Abd al-Rauf al-Sinkili melaikan melalui Muhammad Tahir bin Ibrahim al-Kurani yang menerima dari ayahnya Ibrahim al-Kurani. Fenomena ini tentunya mudah di mengerti sebab kedudukan haramayn sebagai pusat ilmu ketika itu sangatlah dominant sehingga merangsang sekaligus mengundang kaum muslimin untuk menuntut ilmu di sana.

Jika ditelusuri lebih jauh, sebetulnya ini jaringan penyebaran doktrin Wahdat al-Wujud dan pengembanganya adalah berada di haramayn. Sebagaimana kita lihat bahwa al-Qusyasyi dan al-Kurani memiliki peran yang jelas dalam penyebaran ajaran martabat tujuh di Nusantara Melalui Tarekat Syattariyah `Abd al-Rauf al-Sinkili.

Dan semoga apa yang telah menjadi uraian di atas meskipun sangat singkat dan sedikit, menjadi hal yang dapat membawa kita kepada manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Amien.

Daftar Pustaka

Azra, Azyumardi. Islam Nusantara: Jaringan Global Dan Local Islam Nusantara. (Bandung: Mizan, 2002).

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII: melacak akar-akar pembaruan pemikiran di Indonesia. (Bandung: Mizan, 1993).

Arifin, Miftah. Disertasi. Wujudiyah di nusantara: menelusuri kontinuitas dan perubahan doktrin Wahdat al-Wujud di Indonesia pada abad XVI-XIX. (Jakarta: 2007).

Oman, Fathurrahman. Tanbih al-Masyi: Menyoal Wahdat al-wujud kasus Abd al-Rauf Singkel di Aceh abad 17. (Bandung: Mizan, 1999)

Solihin, M, Drs, M.ag. Sejarah dan Pemikiran Tasawuf di Indonesia. (Bandung: Pustaka setia, 2001).

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...